Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II (tahun 1920 – 1930an) yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain. Lahir setelah PD I karena pada PD I terjadi kerugian jiwa dan materi yang besar. Setelah perang berakhir, masyarakat sibuk menata kembali lingkungannya, membangun kembali tempat tinggalnya dan mereka memerlukan berbagai macam peralatan rumah tangga, perhiasan, pakaian, keramik dan lain-lain, hal ini memberikan kesempatan kepada para seniman untuk bereksperimen dan memberikan semangat kepada mereka untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Barang-barang yang diperlukan masyarakat adalah yang modern dan fungsional.
Seniman Art Deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya, karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tangga, segitiga dan lingkaran terbuka, tetapi mereka kadang masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan figur, tetapi motif-motif tersebut cenderung mempunyai bentuk yang geometris. Komposisi elemen-elemennya mayoritas dalam format yang sederhana.
Ciri lain dari Art deco ini adalah bentuk manis, halus, rapih dan menonjol / mengkilap , kesan yang sangat khas dari Art Deco. Art Deco berkembang sebagai bentuk reaksi melawan gaya yang rumit , berliku-liku , dan plastisitas alam (dalam hal ini ditujukan kepada aliran Art Nouveau) . Art Nouveau (populer pada tahun 1894-1914) tidak lagi bisa bertahan lama karena hasil karya yang kurang fungsional, penuh dekorasi, dan harganya sangat mahal. Art Deco juga menjadi ikon dari kebangkitan Era Mesin (revolusi industri). Karakter dari aliran Art Deco ini adalah garis yang rapih, stabil, tajam, manis , mengkilap, dan hiperbola , hal ini dibuktikan dari beberapa penggunaan material yang sangat mengkilap seperti krom , batu perhiasan yang dipoles , dll.
Gaya seni Art Deco yang berkembang di jaman revolusi industri, memberi dampak pada gaya arsitektur, dimana kesederhanaan lebih dijunjung tinggi serta fungsional (modern). Para seniman mencari pemecahan atas konflik yang timbul dengan menciptakan suatu gaya yang dapat merangkul selera semua lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah seni dan pameran pameran seni adalah tempat yang dipakai oleh para seniman untuk bertukar pikiran dan menciptakan ide-ide baru. Pengenalan terhadap material baru seperti plastik, bakelit, kaca dan krom mengharuskan para seniman mencari cara dan gaya sehingga material tersebut dapat diolah dan diproduksi secara massal, tetapi tetap memiliki desain yang bagus. Desain-desain lama pada gaya seni terdahulu yang disukai dan terbilang mewah juga diaplikasikan pada seni Art Deco, seperti baja ,yang diperkenalkan pertama kali pada jaman Art Nouveau, merupakan salah satu bahan untuk mengekspresikan seni pada desain. Art Deco ini sangat besar pengaruhnya di Amerika Serikat terlihat dari arsitektur gedungnya pada tahun 1930an, salah satu ikonnya adalah gedung Chrysler.
Gambar 1 Chrysler
Masuknya gaya seni Art Deco di kota Bandung, yaitu saat Belanda masuk ke Indonesia pasca PD I, masa dimana Art Deco sedang berkembang, serta arsitekturnya yang mengaplikasikan gaya Art Deco. Otonomi pemerintahan kota tahun 1906 (revolusi industri) dan rencana pemerintah Hindia Belanda menjadikan kota Bandung sebagai ibu kota serta pusat komando militer. Untuk maksud tersebut pemerintah memindahkan Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) dari Weltevreeden (Jakarta Pusat) ke Bandung dengan membangun Pusat Komando Militer yang oleh masyarakat Sunda disebut Gedong Sabau, karya VL Slors tahun 1913. Arsitektur modern kota Bandung banyak menampilkan perpaduan antara budaya Timur dan Barat yang oleh sejarawan disebut sebagai arsitektur Indo-Eropa. Perpaduan tersebut juga terlihat pada karya kelompok arsitek Hindia Belanda NIAK (Nederlands Indie Arsitectuur Krink), seperti Maclaine Pont, CP Wolff Schoemaker, FJL Gheijsels, dan sebagainya.
Karya arsitektur langgam Art Deco di Bandung terlihat tiga macam mainstream; yaitu yang penuh dengan inovasi seni dekoratif, antara lain Gereja Katedral St. Petrus (1922), Gereja Bethel (1925), Hotel Preanger (1929), Vila Isola (1932), dirancang oleh CP Wolff Schoemaker. Yang kedua, yaitu yang memanfaatkan dekorasi florel; jumlah bangunan seperti ini saat ini paling besar di Bandung. Yang ketiga yang mengutamakan fasade streamline, yaitu Hotel Homann (1931), Bank Pembangunan Daerah, Villa Tiga Warna dan Vila Dago Thee dirancang oleh A.F. Albers antara tahun 1931 s.d 1938.
Hotel Savoy Homann merupakan salah satu bangunan yang masih terlihat kesan Art Deco-nya. Ciri Art Deco yang khas pada Hotel Homann, yaitu geometri persegi panjang dan lengkungan disatukan, kemudian fasadenya sangat sederhana, terdiri dari 4 bidang yang sejajar dalam satu garis.
Bangunan lain yang ‘terkena’ dampak aliran gaya Art Deco adalah Vila Isola, atau yang sekarang berada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bangunan ini memiliki dominasi geometri lingkaran dari dasar sampai puncak bangunan, warna yang monoton pada tampilan eksterior, serta kokoh.
Sumber-sumber terkait :
- http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/23/0804.htm
- http://arsitekturindis.wordpress.com/2006/04/16/arsitektur-bersejarah-dan-citra-kota-bandung/
- http://nouveaugroup.wordpress.com/gaya-desain/
- http://www.bandungheritage.org/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=1
